
Banyak sejarawan lokal yang masih saja mengekor pada perspektif
kolonialis dalam menelusuri asal-usul orang Betawi. Mereka ini termakan
oleh studi dari Lance Castles yang menulis “
The Ethnic Profile of Jakarta” yang dimuat di satu majalah Indonesia terbitan Cornell University bulan April 1967. Menurut
Castles, orang Betawi berasal dari budak-budak yang berasal dari
berbagai daerah yang didatangkan Belanda pada pertengahan abad ke-19.
Pandangan Castles ini berangkat dari sebuah catatan harian orang Belanda (
daghregister) yang hidup di dalam kota benteng Batavia tahun 1673,
juga dari catatan Raffles ‘History of Java’ (1815), catatan
kependudukan dari Encyclopaedia van Nederlansche Indie (1893), dan
sensus penduduk yang dilakukan kolonialis Hindia Belanda (1930). Dalam
pandangan Castles, daerah Kali Besar merupakan pusat dari asal-usul
orang Betawi. Padahal daerah ini merupakan pusat pemerintahan Hindia
Belanda.
Ngawurnya Castles
Sebagai seorang peneliti, Castles jelas bersikap ceroboh dengan
mengabaikan keberadaan penduduk asli yang sudah hidup beranak-pinak
berabad-abad sebelum kedatangan Belanda, bahkan jauh sebelum kedatangan
Portugis. Situs kapak batu di daerah Condet yang ditemukan oleh tim
arkeolog Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta ditahun 1970-an
dengan tegas telah membantah Teori Castles. Situs kapak batu, beliung
batu, pahat batu, dan sebagainya yang ditemukan berasal dari masa
1.000-1.500 tahun SM. Benda-benda itu digali dari tepian sungai
Ciliwung, di daerah Condet dan Kalibata Pejaten, Jakarta Selatan.
1
Situs ini membuktikan jika nenek moyang orang Betawi, sudah hidup di
wilayah tersebut berabad-abad sebelum negara Portugis dan Belanda lahir,
bahkan sebelum kelahiran Nabi Isa a.s.!
Sejarawan Sugiman MD memperkuat pandangan itu dengan menyatakan,
“Pada masa itu, di Condet dan beberapa tempat di Jakarta sudah ditempati
nenek moyang bangsa Indonesia.”
2 Hal ini menandakan jika di
zaman batu (Neolitikum), wilayah Condet dan sekitarnya telah mengenal
peradaban. Bahkan pada 1971, di Pejaten-Pasar Minggu, ditemukan lampu
perunggu dan lampu kuil yang menandakan di daerah tersebut telah ada
kepercayaan atau agama.
Sejarawan Betawi, Drs. H. Ridwan Saidi yang pernah berdebat keras
dengan Castles menegaskan jika Teori Castles tidak memiliki pijakan yang
kuat secara ilmiah. Berdasakan penelitian lapangan yang dilakukannya,
ditambah dengan penelitian arsip dan berbagai literatur, Ridwan Saidi
menyatakan, “Di utara Condet, terdapat pelabuhan Kalapa yang menjadi
bagian dari Krajan Salakanagara yang sudah berdiri pada tahun 100 M.
Dalam kitab Wangsakerta, disebutkan jika wilayah ini telah ramai
disinggahi para pedagang dari Maghribi, India, dan juga bangsa Tiongkok.
Dengan sendirinya, warga sekitar telah menyerap banyak pengaruh dan
adat istiadat asing. Bahkan kosakata Arab seperti “Adat, Kramat, Alim,
dan Kubur”, telah ada di wilayah cikal bakal Betawi jauh sebelum Islam
menyebar di wilayah ini pada abad ke-15 M.”
3
Selain Ridwan Saidi, sejarawan Uka Tjandarasasmita juga menegaskan
jika paling tidak sejak zaman neolitikum atau batu baru (3500 – 3000
tahun SM) daerah Jakarta dan sekitarnya dimana terdapat aliran-aliran
sungai besar seperti Ciliwung, Cisadane, Kali Bekasi, Citarum, pada
tempat-tempat tertentu sudah didiami orang. Beberapa tempat yang
diyakini berpenghuni manusia itu antara lain Cengkareng, Sunter,
Cilincing, Kebon Sirih, Tanah Abang, Rawa Belong, Sukabumi, Kebon Nanas,
Jatinegara, Cawang, Cililitan, Kramat Jati, Condet, Pasar Minggu,
Pondok Gede, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Kelapa Dua, Cipete, Pasar
Jumat, Karang Tengah, Ciputat, Pondok Cabe, Cipayung, dan Serpong. Jadi
menyebar hampir di seluruh wilayah Jakarta.
Dari alat-alat yang ditemukan di situs-situs itu, seperti kapak,
beliung, pahat, pacul yang sudah diumpam halus dan memakai gagang dari
kayu, disimpulkan bahwa masyarakat manusia itu sudah mengenal pertanian
(mungkin semacam perladangan) dan peternakan. Bahkan juga mungkin telah
mengenal struktur organisasi kemasyarakatan yang teratur.
4
Islam di Betawi
Nenek moyang orang Betawi bukanlah beragama Hindu atau Budha seperti
yang disangkakan banyak kalangan saat ini, melainkan suatu bentuk
keyakinan terhadap arwah leluhur. “Jejak Budha pada orang Betawi jelas
nihil. Jejak Hindu paling-paling dari Tarumanegara atau Pajajaran. Tapi
orang banyak lupa jika Hindu adalah agama kerajaan, yang hanya dianut
para elit kerajaan, tidak orang-orang kecilnya. Agama asli orangorang
Betawi adalah agama lokal, yakni pemujaan terhadap arwah leluhur.
Sisa-sisa
keyakinan itu kini masih ada di Kranggan, Pondok Gede, Bekasi,” ujar Ridwan.
Ketika Islam mulai menyinari utara Sumatera di abad ke-7, bukan tidak
mungkin orang Islam sudah ada pula di wilayah pelabuhan Kalapa, cikal
bakal Jakarta. Hal ini mengingat para pedagang Arab sudah berkeliling
Nusantara hingga ke Maluku dan Timor. Namun sejauh ini catatan pertama
memang baru dari
Babad Tanah Jawa atau pun
Carios Parahyangan yang sama-sama mengisahkan kedatangan Syekh Quro atau juga dikenal sebagai Syekh Hasanuddin dari Cempa
5 ke Jawa yang diperkirakan terjadi di
penghujung abad ke-15.
“…. penyebar awal Islam di masyarakat Betawi adalah orang-orang
Melayu, maka tidak sulit bagi pendakwah itu untuk menyampaikan pesannya.
Mereka masuk dalam rongga-rongga budaya lokal. Istilah lokal seperti
sembahyang dan puasa tetap dipergunakan, begitu juga dengan istilah
sorga dan
niraka, atau neraka, sebagai istilah yang telah dikenal oleh komunitas lokal. Tidak dipaksa untuk menggunakan istilah
shalat, shaum, jannah, naar,” tulis Ridwan.
Orang-orang Islam awal di Betawi dianggap oleh Penguasa Pajajaran
sebagai orang-orang yang melanggar ajaran Sanghyang Siksha Kandang
Karesian. Sebab itu, dalam lidah orang Pajajaran, orang Islam awal di
Betawi disebut sebagai kaum Langgara dan tempat beribadahnya disebut
Langgar.
Penyebar Islam awal di Betawi berasal dari Pattani yang berhubungan
dekat dengan Kerajaan Islam Moghul yang bermazhab Hanafi. Tarekat Syekh
Abdul Qadir al-Jilani berasal dari mazhab ini. Sebab itu, nama Syekh
Abdul Kadir Jaelani masyhur di komunitas Muslim Betawi. Namun
lama-kelamaan mazhab ini memudar dengan kian bersinarnya mazhab Syafii
yang memang lebih lengkap
compedium hukum Islamnya. Walau
demikian, kedekatan orang betawi dengan Syekh Abdul Kadir Jaelani tetap
terpelihara sampai kini dengan masih banyaknya gambar Syekh Jaelani
dipasang di dinding-dinding rumah asli
orang Betawi.
Para ulama seperti Syekh Quro (Karawang), Datuk Ibrahim (Condet),
Datu Biru (Jatinegara), Dato Tonggara (Cililitan), Mak Datu Tanjung Kait
(Tangerang), Kumpi Datu (Depok) dan lainnya merupakan para dai yang
mengislamkan Jakarta dan sekitarnya. Mengenai Fatahillah, agak
mengherankan jika orang percaya dia sebagai orang yang mengislamkan
Jakarta karena jejak dakwah Fatahillah yang berasal dari Cirebon
(menyerbu Jakarta tahun 1527) tidak ada sisa-sisanya sama sekali dalam
kultur warga Betawi saat ini. Bahkan di hari penyerbuannya itu,
syahbandar terakhir Pelabuhan Kalapa dan juga tokoh Islam Betawi,
bernama Wak Item terbunuh.
“Fatahillah dengan ribuan pasukannya menyerbu Sunda Kalapa. Dia
kemudian membangun istana dikelilingi tembok tanah di tepi barat Kali
Besar. Orang-orang Betawi yang sudah memeluk Islam diusir dari istana,
dan sekitar tiga ribuan rumahnya dibumihanguskan. Jejak dakwah
Fatahillah atau pengaruh Islam Cirebon, tidak ada di Jakarta. Saya belum
pernah melihat gambar Walisongo menggantung di dinding rumah orang
Betawi, kecuali gambar Buroq dan Syekh Jaelani,” demikian Ridwan
Saidi.(rz)